Pages

Timses Jokowi-JK Berjuang Dengan Kebencian

Selasa, 01 Juli 2014

A.m. Panjaitan
Istilah yang digunakan dalam judul "Berjuang Dengan Kebencian," terinspirasi dari tulisan Bagir Manan pada buku 75th Adnan Buyung Nasution Inspirator terbitan Galacita dengan judul Menghantam Tanpa Ada Niat Buruk (halaman 95). Setahu saya buku ini tidak dijual bebas karena itu saya cukup beruntung menerimanya dari Bang Buyung sendiri beberapa tahun silam.

Inti tulisan Bagir Manan adalah bahwa Bang Buyung menghantam (bahasa orang Sumatera untuk mengkritik) orang tanpa interes atau ingin mencapai tujuan tertentu, itulah alasannya Bang Buyung menghantam orang tidak pandang pejabat, teman dekat, kalau salah pasti "kena," namun yang terpenting Bang Buyung juga sportiv dalam arti akan mengakui bila kritikan yang diberikan ternyata salah (hal 96). Saya sependapat dengan Bagir Manan, dan sifat inilah yang membuat Bang Buyung mau mendampingi para jenderal yang menjadi pesakitan setelah Orde Baru jatuh dengan resiko menerima perlawanan dari anak didiknya sendiri seperti Munir dkk.

Bang Buyung memang memiliki banyak kelemahan tapi sebagai seorang aktivis yang memperjuangkan idealisme, terlepas orang bisa setuju atau tidak setuju dengan idealisme tersebut, tapi seorang Buyung tidak tergantikan, dia tetap akan menjadi barometer untuk menilai aktivis di masa lalu dan aktivis masa depan. Bang Buyung adalah seseorang yang tahu waktu untuk bersikap keras dan kaku; serta kapan waktu untuk bertindak lunak dan luwes; dan yang lebih penting lagi dia siap membayar harga sikap kritisnya itu, mulai dari dipenjara karena Malari sampai mengasingkan diri ke Belanda pasca kasus HR Dharsono. Selain itu idealisme yang diperjuangkan Bang Buyung juga bukan masalah ego; dalam arti dia berjuang for the sake of berjuang dan bukan sekedar gagah-gagahan.

Kalau Bang Buyung dibandingkan dengan aktivis zaman sekarang yang menikmati buah perjuangan beliau, apalagi para aktivis pendukung Jokowi-JK yang terlihat sekedar mempolitisasi demokrasi dan HAM untuk mencari nama, jabatan dan donasi; wah jauh sekali bedanya, seperti bumi dan langit. Contoh politisasi tersebut adalah seperti yang disebut oleh Andi Arief bahwa aktivis pendukung Jokowi seperti Haris Azhar, Hendardi dll, mempolitisasi Wiji Thukul demi meraih kekuasaan tanpa memeriksa fakta bahwa dua bulan setelah reformasi Andi Arief pernah bertemu Wiji Thukul dalam kondisi hidup dan sehat! Jadi omong kosong perkataan Jokowi bahwa: "Wiji Thukul harus ditemukan hidup dan mati," wong masih hidup, dan kalaupun sudah mati maka tidak ada hubungan dengan "penculikan 1998," Kok salahin Prabowo? Gile lu ndro..

http://m.inilah.com/read/detail/2114481/akhirnya-andi-arief-bercerita-soal-widji-thukul

Demikian juga masalah pertanggung jawaban dan ego; seorang Buyung tidak akan pernah lari seperti Uli Ni'am Yusron kabur dari lokasi Peristiwa 27 Juli 1996; bahkan dia mungkin akan berteriak lantang: "Saya ada di sini, ayo tangkap!," dan setelah ditangkap dia juga tidak akan merasa bahwa dirinya sangat gagah karena dipenjara demi melawan "diktator otoriter" seperti diakui Budiman Soejatmiko Ketua PRD yang dipecat tidak hormat tahun 2000 bahwa dia senang dipenjara Orde Baru karena berarti dia menjalani kehidupan yang sama seperti "para pahlawan idolanya seperti Soekarno; Lenin; dll."

Yang paling penting di antara yang paling penting adalah bahwa perjuangan Bang Buyung tidak dilandasi oleh rasa kebencian dan perasaan hendak menjatuhkan. Ketika dia mengkritik dalam keadaan marah maka sebenarnya dia marah terhadap pelanggaran idealisme tapi bukan kepada manusia yang menjadi sasaran kritik. Ketika objek kritikan melakukan tindakan koreksi maka semua masalah dianggap selesai dan tidak ada dendam atau kebencian di hati Bang Buyung. Demikian pula bila ternyata kritikan dia salah, maka dia segera mengakui tanpa gengsi, sebuah tindakan yang hanya bisa dilakukan seseorang yang berjuang tanpa rasa benci.

Sekali lagi, inilah yang membedakan seorang aktivis tulen seperti Bang Buyung yang berhasil melahirkan banyak hal mulai dari LBH Jakarta yang merupakan lokomotif utama dan pertama pendorong reformasi; melahirkan KPK; melahirkan generasi-generasi penerus aktivis; membangun law firm modern pertama di Indonesia dan melahirkan murid-murid yang sekarang sukses membuka law firm sendiri, bukan sekedar law firm, tapi mayoritas law firm yang dibangun murid Bang Buyung masuk tier tertinggi alias bukan law firm ecek-ecek atau menengah.

Coba saja kita bandingkan dengan para aktivis pendukung Jokowi yang berjuang dengan kasus sirkulasi foto Prabowo adalah Hitler yang biadab ala Ulin Yusron; ada Wimar Witoelar dengan kasus foto Gallery of Rogues bahwa Muhammadiyah=Osama bin Laden; Frans Magnis Suseno dan Alwi Shihab yang kampanye hitam di Gereja Katedral; Frans Magnis Susesno yang sempat "mengancam" akan ada kerusuhan massal bila Jokowi tidak dicapreskan PDIP; ada Butet dengan pernyataan menyedihkannya bahwa "hanya orang gila pilih calon No. 1," Yang buat saya berpikir "Pilih No. 2, memangnya situ waras 'tet?"; ada Nanik S. Deyang adalah pelacur ala Kartika Djoemadi, dan masih banyak lagi.

Dari metode-metode kampanye timses Jokowi-JK yang mengedepankan teror; intimidasi; fitnah; kampanye hitam; menyerang SARA seperti contoh di atas adalah bukti tidak terbantahkan bahwa perjuangan mereka dilandasi kebencian dan bukan untuk Indonesia yang lebih baik, padahal mereka jebolan atau pernah mengafiliasikan diri dengan LBH Jakarta tapi tidak mengikuti pakem yang dijalankan Bang Buyung karena sudah merasa pintar dan "gagah" menapaki jalan aktivis. Tidak heran bahwa tidak ada satupun dari mereka yang menelurkan prestasi bagi bangsa sebab orientasi perjuangan mereka adalah "keakuan" mereka.

Hal ini tentu sangat disayangkan karena kebencian akan membuat mata hati mereka tertutup dan tidak objektif lagi menilai segala sesuatu. Kita ambil contoh yang paling ringan saja, mengapa di twitter Jasmevnya Kartika Djoemadi menyebut Nanik S. Deyang sebagai pelacur? Karena mereka marah ketika Nanik membongkar kerakusan Jokowi akan jabatan yang sudah mimpi jadi presiden sejak Desember 2012 dan pernah ditegur Megawati karena membentuk timses tanpa izin; yang artinya "Jokowi nyapres karena mandat Megawati" adalah kebohongan besar. Orang yang objektif akan mempertanyakan apakah ucapan Nanik ini benar? Sekarang hampir semua pengamat setuju bahwa keluarga Soekarno termasuk Megawati tidak sepenuh hati mendukung Jokowi, ini membuktikan kebohongan materi kampanye Jokowi bahwa "dia nyapres hanya sekedar menjalankan mandat Megawati."

Fakta-fakta tidak terbantahkan bahwa timses Jokowi-JK berjuang dengan kebencian mementahkan ucapan Jokowi bahwa "dia akan membalas kampanye hitam dan fitnah dengan kebaikan," sebab pertama, dia yang melakukan kampanye hitam sendiri, dan kedua tidak ada kebaikan dalam semua perbuatannya kepada lawan.
Share.Kompasiana

Subscribe your email address now to get the latest articles from us

Tidak ada komentar:

 
Copyright © 2015. PRESIDEN ber-NYALI.
Design by . Published by Themes Paper. Powered by .
Creative Commons License