Joko Layo .03 july 2014 . Jokowi adalah anugerah Tuhan bagi bangsa ini,begitulah promosi kubu Jokowi agar memilih Jokowi. Tapi bagi mantan sekda Surakarta, Supradi Kartamenawi, Jokowi adalah sosok munafik. Beda kepentingan beda penilaian, Supradi merasa didzalimi karena mengetahui kejanggalan keuangan. Jokowi dinilai sebagai anugerah Tuhan karena sipenilai kepincut blusukan Jokowi sebaliknya Supradi merasa dongkol dengan perlakuan Jokowi. Mana yang dipercaya, nanti akan dilihatsetelah pencoblosan.
Bukan hanya tuhan yang dicatut namanya agar tertarik memilih Jokowi,bangsa Jin juga dicatut namanya, tidak terdengar complain dan sanggahan. Tetapi nama orang yang masih hidup dicatut, faktanya banyak yang meyanggah, mungkin cari aman saja, Tuhan dan bangsa Jin dicatut karena tidak ada complain.
Namun hebatnya lagi, Surya Paloh dan JK setali tiga uang, belum dilakanakan pencoblosan sudah dapat memasttikan terjadi kecurangan. Kedua tokoh ini menjadi seperti Tuhan yang bisa mengetahui kejadian masa depan. Apakah yang dimaksud Tuhan oleh pendukung Jokowi adalah kedua tokoh ini ?
Lebay, ingin agar Jokowi terpilih membuat karangan yang tidak masuk akal,makin kelihatan banyak bohongnya. Apakah kalau jujur diharamkan ? Lalu bagaimana dengan Puluhan demonstran yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Anti Korupsi (KORAN) mendatangi Kejaksaan Agung ? Mereka mendesak Jaksa Agung Basrief Arief memeriksa calon presiden Joko Widodo alias Jokowi terkait kasus dugaan mark up bus TransJakarta. Dalam aksinya, demonstran memakai topeng-topeng yang menandakan sikap pembohong Jokowi. Apakah mereka ini adalah para pendosa karena tidak percaya jokowi adalah anugerah Tuhan ?
Pencitraan tidak dilarang,namun kalau mencatut nama Tuhan bukannya publik justru menjadi muak ?. Karena muak, Jokowi tidak terpilih, Surya Paloh dan JK sudah punya jawaban pasti,curang ! Lebih baik yang koar-kaor mencatut nama Tuhan sadar diri, berjalanlah pada rel yang seharusnya, memilih pemimpin bangsa harus menggunakan rasio shingga kepala kita dingin.
Sebaliknya, dimedia sosial mencuat isu adanya kapal dari Singapura membawa uang 100 triliun rupiahuntuk memenangkan capres. Berapa kontainer uang sebanyak itu ? Cara membaginya bagaimana ?. Lucunya, isu seperti ini ditanggapi olehTimses Capres dan mmenjadi pemberitaan. Kurang kerjaan, yang penting ada bahan berita agar terjadi saling tuding,
Share kompasiana
Bukan hanya tuhan yang dicatut namanya agar tertarik memilih Jokowi,bangsa Jin juga dicatut namanya, tidak terdengar complain dan sanggahan. Tetapi nama orang yang masih hidup dicatut, faktanya banyak yang meyanggah, mungkin cari aman saja, Tuhan dan bangsa Jin dicatut karena tidak ada complain.
Namun hebatnya lagi, Surya Paloh dan JK setali tiga uang, belum dilakanakan pencoblosan sudah dapat memasttikan terjadi kecurangan. Kedua tokoh ini menjadi seperti Tuhan yang bisa mengetahui kejadian masa depan. Apakah yang dimaksud Tuhan oleh pendukung Jokowi adalah kedua tokoh ini ?
Lebay, ingin agar Jokowi terpilih membuat karangan yang tidak masuk akal,makin kelihatan banyak bohongnya. Apakah kalau jujur diharamkan ? Lalu bagaimana dengan Puluhan demonstran yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Anti Korupsi (KORAN) mendatangi Kejaksaan Agung ? Mereka mendesak Jaksa Agung Basrief Arief memeriksa calon presiden Joko Widodo alias Jokowi terkait kasus dugaan mark up bus TransJakarta. Dalam aksinya, demonstran memakai topeng-topeng yang menandakan sikap pembohong Jokowi. Apakah mereka ini adalah para pendosa karena tidak percaya jokowi adalah anugerah Tuhan ?
Pencitraan tidak dilarang,namun kalau mencatut nama Tuhan bukannya publik justru menjadi muak ?. Karena muak, Jokowi tidak terpilih, Surya Paloh dan JK sudah punya jawaban pasti,curang ! Lebih baik yang koar-kaor mencatut nama Tuhan sadar diri, berjalanlah pada rel yang seharusnya, memilih pemimpin bangsa harus menggunakan rasio shingga kepala kita dingin.
Sebaliknya, dimedia sosial mencuat isu adanya kapal dari Singapura membawa uang 100 triliun rupiahuntuk memenangkan capres. Berapa kontainer uang sebanyak itu ? Cara membaginya bagaimana ?. Lucunya, isu seperti ini ditanggapi olehTimses Capres dan mmenjadi pemberitaan. Kurang kerjaan, yang penting ada bahan berita agar terjadi saling tuding,
Share kompasiana


Tidak ada komentar:
Posting Komentar