Pages

Kronologi Unjuk Rasa WNI Saat Pilpres di Hong Kong

Senin, 07 Juli 2014


Mereka yang terlambat ini kemudian meneriakkan nama salah satu calon.

Ketua Panitia Pemungutan Luar Negeri Hong Kong, Aries Wahyudi mengaku tidak habis pikir kegiatan pilpres yang seharusnya berakhir tertib malah diwarnai aksi unjuk rasa dari sebagian pemilih.

Pria yang turut menjabat sebagai salah satu eksekutif di maskapai penerbangan di Hong Kong itu menyayangkan tindakan unjuk rasa yang dilakukan pendukung capres cawapres nomor urut dua.

Dihubungi VIVAnews melalui telepon pada Senin, 7 Juli 2014, Aries menegaskan tidak semua demonstran belum menggunakan hak pilihnya. Ketika dia meninjau ke kerumunan yang berorasi sambil menyebut capres Joko Widodo, dia melihat sebagian pengunjuk rasa sudah mencelupkan jarinya ke tinta ungu.

"Jadi, saya tersinggung apabila dikatakan ada ratusan warga Indonesia yang tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Karena saat unjuk rasa terjadi, mereka yang belum mencoblos telah membaur dengan warga yang sudah menggunakan hak pilihnya," ujar Aries.

Dia kemudian menceritakan kronologi demonstrasi di Taman Victoria, Hong Kong. Aries mengatakan di tempat publik itu telah didirikan 13 TPS.

Antusiasme warga Indonesia untuk ikut pilpres kali ini, diakui Aries, luar biasa tinggi. Dari data sementara tercatat 25.137 pemilih yang menggunakan hak suaranya.

"TPS sudah kami buka sejak pukul 09:00 hingga 17:00 waktu setempat. Kami tidak diizinkan untuk membuka lebih awal atau menutup TPS lewat dari waktu yang ditentukan, karena akan ditegur oleh polisi Hong Kong. Setiap TPS masing-masing melayani sekitar 2.000 pemilih," tutur Aries.

Selama TPS dibuka, lanjut Aries, semua berjalan lancar. Bahkan satu jam sebelum TPS ditutup, panitia PPLN termasuk dirinya berkeliling ke sekitar Taman Victoria sambil membawa megaphone.

Mereka menginformasikan kepada warga Indonesia yang tengah berada di sekitar taman dan belum menggunakan hak pilihnya agar segera bergegas ke TPS. Begitu diumumkan, para WNI langsung berlari menuju ke kampung TPS Indonesia.

"Di depan pintu menuju kampung TPS sudah tidak ada lagi antrean. Sementara di dalam area kampung TPS yang terdiri dari 13 TPS, masih terlihat aktivitas pilpres," ujar dia.

Sebelum ditutup tepat pukul 17:00, Aries mengatakan panitia masih berteriak untuk mengumumkan bahwa TPS akan segera ditutup. Polisi Hong Kong pun, kata Aries sudah mulai mengingatkan untuk segera menutup TPS, karena telah melewati batas waktu yang ditentukan.

"Namun, kami masih memperoleh kelonggaran lima menit dari polisi Hong Kong. Berdasarkan pengalaman pileg lalu, kami ditegur polisi Hong Kong karena telat menutup TPS hingga 15 menit lamanya," ujar Aries.

Ketika dia sedang sibuk menghitung kertas suara yang digunakan, sekitar pukul 17:25, datang warga Indonesia yang merupakan buruh migran dan mendesak agar TPS dibuka kembali.

Saat Aries melihat keluar mereka sudah berorasi dan berdemonstrasi. Mereka meneriakkan capres Joko Widodo.

"Mereka yang terlambat ini kemudian meneriakkan nama salah satu calon dan dengan cepat diikuti oleh pemilih lainnya yang sudah menggunakan hak pilih," kata dia.

Ditanya soal pernyataan yang dilontarkan oleh salah satu anggota komisioner KPU, Sigit Pamungkas, yang diduga memprovokasi dengan mengatakan TPS akan kembali dibuka asal mencoblos salah satu kandidat nomor satu, Aries mengaku tidak yakin hal itu dilontarkan.

"Saya baru mendengar kabar ini berkembang menjadi seperti ini tadi malam sekitar jam 12. Tidak mungkin dia mengatakan kalimat seperti itu. Justru komisioner KPU membantu kami selama proses pemilu. Mereka yang memberikan masukan dan nasihat penyelenggaraan pilpres di Hong Kong," ujar dia.

Aries mengaku memang tidak mengkonfirmasi pernyataan itu secara langsung kepada Sigit, karena sibuk menghitung jumlah kertas suara yang digunakan.
"PPLN Hong Kong memiliki pandangan positif soal hal tersebut," kata dia.

Sebelumnya muncul video di media sosial yang menggambarkan kesaksian buruh migran Indonesia yang dirugikan tidak bisa memilih saat pilpres di Hong Kong. Selain itu, mereka juga mengklaim ada salah seorang anggota komisioner KPU yang tidak netral saat bertugas.

Dia menyeleksi calon pemilih yang akan mencoblos agar memilih kandidat tertentu. Tidak terima, para buruh migran kemudian berunjuk rasa di Taman Victoria untuk memprotes sikap keberpihakan panitia. 


Share. VIVAnews





Subscribe your email address now to get the latest articles from us

1 komentar:

Anonim mengatakan...

harap maklum, mayoritas pendukung JKW 'kan pendidikan SD... mari kita cerdaskan mereka :)

 
Copyright © 2015. PRESIDEN ber-NYALI.
Design by . Published by Themes Paper. Powered by .
Creative Commons License