Wartawati Senior dan penulis buku, Linda Djalil, sentil Jokowi lewat puisinya karena gerah dengan Jokowi yang akhir-akhir ini sering menyindir Prabowo tak punya istri.
Sindiran-sindiran Jokowi membuat
naluri kewanitaan Linda Djalil berontak. Menurut Linda, seseorang yang
tak mempunyai pasangan bukanlah sesuatu yang membahayakan dan dapat
memutus karir seseorang.
Sebagai seorang wanita, Linda merasa
terpanggil untuk menyuarakan supaya tak ada lagi bentuk penghakiman
terhadap seseorang hanya karena seseorang tak punya pasangan hidup.
Apa yang disuarakan oleh Linda
Djalil memang benar. Hak hidup, hak karir seseorang, hak berpasangan
maupun tak berpasangan dalam hidup seseorang adalah hak asasi yang
bersangkutan, hak yang disandang sejak lahir.
Rasanya hilang budaya santun Jokowi,
hegemoni euforia semu yang dibungkus dengan fatamorgana palsu sering
ditampilkannya di publik dengan celoteh dan sindiran yang melindas semua
tata krama kehormatan dirinya.
Berbagai upaya dilakukan dengan
menstagnasikan proses, bahkan bilamana dimungkinkan jungkirbalikan fakta
dari hal yang benar bisa menjadi salah, begitu pula sebaliknya tanpa
perlu ada lagi tenggang rasa tepo seliro.
Tak seorangpun di dunia yang fana
ini berhak menghakimi dan mempengaruhi mindset orang lain bahwa orang
yang tak punya pasangan adalah orang yang gagal. Ini tak baik bagi
pembelajaran moral dan mental untuk nusa dan bangsa.
Kalau ada calon pemimpin yang
mencerahkan, maka ia akan menjadi panutan bagi orang lain, membawa
rahmat dan berkah, karena dirinya mengerti hak asasi individu umat
manusia, bukan pemaksaan kehendak.
Sepenggal kutipan puisi Linda Djalil;
duh, congkaknya dikau…
sembilu menerjang para janda dan duda
mengiris seperih-perihnya penuh penghinaan
mulut anyirmu..
mulut anyirmu…
mana mungkin tak dicermati Tuhan…
Saran buat Jokowi, kalau mau meraup
kembali simpati yang telah hilang, hilangkan kebiasaan baru Anda
menyindir orang lain dengan nyinyir. Dimanapun dibelahan dunia ini,
orang yang tinggi hati dan jumawa akan ditinggalkan.
Semoga Anda jadi Presiden.
Share.kompasiana



Tidak ada komentar:
Posting Komentar