Pages

Prabowo-Titiek, Manisnya Cinta di Ujung Jalan

Jumat, 04 Juli 2014

Subuh pagi ini Jakarta begitu tenang,  angin bertiup pelan mengalirkan rasa dingin di tubuh. Tiba-tiba ponsel saya berdering sedang dari seorang kawan dari Sulawesi Tenggara, “Bang, siapa ibu negara Pak Prabowo ketika nanti jadi Presiden?” Tanya kawan itu.  “Ibu Titiek” jawabku singkat. “Alhamdulillah” jawabnya membalas.
Usai percakapan singkat itu, ada sejuta pertanyaan mendera di benak sebab  begitu besar ekspektasi banyak orang tentang kehidupan cinta dari seorang Calon Presiden yang didambakannya, bapak Prabowo Subanto. Begitu besar harapan orang untuk menyaksikan tali cinta Pak Prabowo dan Ibu Titik terajut kembali, meski saya tak paham bagaimana sebenarnya kehidupan keluarga Pak Prabowo dan Ibu Titiek.
Sebab setahu saya, Jika Pak Prabowo dan Ibu Titiek bertemu, selalu diawali dengan cipika-cipiki sebagai bentuk keakraban, dan selalu ada senyum yang merekah di keduanya. Bahkan ketika berkumpul dengan putra tersayangnya, Mas Didit Prabowo, seperti saat debat Capres kedua di Grand Melia Hotel Jakarta dua pekan lalu, suasananya  begitu sumringah, penuh canda dan seolah ada aliran rasa rindu yang hangat diantara mereka.
Bahkan publik yang menyaksikannya melontar siulan menggoda, beberapa diantaranya langsung standing aplaus, sebagai keinginan atas rukunnya kembali keluarga kecil Pak Prabowo ini. “suit, suit, cie-cie…” begitu godaan iseng dari para pendukung Pak Prabowo di Grand Melia saat itu. Ibu Titiek tampak tersipu dan Mas Didit tersenyum merekah, demikian pula Pak Prabowo yang tampak beitu rileks sembari melambaikan tangan pada audiens. Terasa sekali jika kehadiran Ibu Titiek dan putra kesayangannya itu, sebagai sebuah spirit dan semangat baru dalam cita-citanya membangkitkan Indonesia Raya.
Saat ditanya wartawan pun, Ibu Titiek mengomentari singkat jika kedatangannya ke acara debat Capres itu untuk memberi semangat bagi Pak Prabowo. “Bapak sangat rileks malam ini,” katanya. Wartawan pun sempat menggodanya, dan lagi-lagi Ibu Titiek tersenyum simpul. Entahlah apa makna dari semua itu, tetapi bagi pendukung Pak Prabowo terasa sekali hadir aroma cinta dan kasih sayang mengalir di ruang debat Capres saat itu.
Menyaksikan momentum ini, insting jurnalistik saya untuk mengetahui kisah cinta Pak Prabowo dan Ibu Titiek ini juga mengebu-gebu. Sebelumnya sempat bertanya pada Professor Suhardi, Ketum Partai Gerindra soal ini. “Hubungan Pak Prabowo dan Ibu Titiek baik-baik saja dik,” jawabnya singkat. Tetapi pernyataan itu justru menambah keinginan untuk mengetahui kisah-kisah cinta beliau berdua, sejak remaja hingga kini.
Amat beruntung, saya bertemu dengan Pak La Ode Ilham, seorang purnawirawan Kopassus yang kini berdiam di Pulau Buton, sahabat sekaligus mantan anak buah Pak Prabowo saat aktif di militer. “Dulu Mbak Titiek selalu mengendarai  Hardtop dari Bandung saat pulang kuliah, dan  sering bertemu dengan Mas Prabowo, disanalah cinta keduanya itu tumbuh, bahkan saya sering mencandai Mas Prabowo. Tetapi beliau hanya mengatakan ‘ada-ada saja Ilham ini’.” Ujarnya.
Kata Pak Ilham, Pak Prabowo selalu konsisten dan tak ingin mencampur-adukkan antara tugasnya sebagai seorang prajurit dan posisinya sebagai kekasih Mbak Titiek. “Pernah Mbak Titiek menemui Pak Prabowo saat di kantor, pak Prabowo menolak bertemu, dengan alasan masih bertugas. Tapi saya bilang, Mas, Mbak Titiek itu puteri Presiden lho?” candanya. Pak Prabowo diam saja, dan kemudian akhirnya menerima Mbak Titiek, dengan alasan menghargai tamunya.
Pertemuan yang intens dari keduanya itu, kata Pak Ilham, cinta keduanya tumbuh begitu kuat. “Mbak Titiek seorang gadis manis, berambut panjang sedikit tomboy, puteri seorang Presiden, sementara Mas Prabowo itu pemuda ganteng, perwira muda, cerdas dan berprestasi, putera seorang Begawan ekonomi pula. Tetapi keduanya teramat santun, akrab dan dekat dengan banyak orang. Sepertinya inilah pasangan kekasih yang paling serasi di Indonesia kala itu. Cemburu rasanya melihat romantisme keduanya, dan bangga rasanya ketika pertautan cinta itu berujung di pernikahan,” jelas Pak Ilham mengenang kisah cinta mantan atasannya itu.
Sebagai seorang pasangan suami-istri, kisah cinta Pak Prabowo dan Ibu Titiek penuh kebahagiaan hingga dikaruniai seorang bayi kecil, Hadi Prasetyo atau akrab dengan sapaan Mas Didit. Dan, sebagai istri seorang tentara, Ibu Titiek sangat aktif menjalankan tugas-tugasnya sebagai pengurus Persit, di kesatuan dimana Pak Prabowo ditugaskan.
Pak Gea, seorang mantan ajudan Pak Prabowo juga mengisahkan`bila Ibu Titiek adalah istri yang konsent mengurus keluarganya, tanpa melupakan tugas-tugasnya sebagai seorang pengurus Persit. Demikian halnya dengan Pak Prabowo yang selalu konsiten membagi tugas-tugasnya sebagai kepala rumah tangga, maupun sebagai seorang komandan di kesatuannya. “Jika Bapak sudah di luar jam dinas dan kembali ke rumah, Bapak selalu mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada keluarganya, berkumpul bersama dan kerap menemani Mas Didit nonton TV bareng,” ujarnya.
Kebahagian Pak Prabowo dan Ibu Titiek dalam mengarungi harmoni cintanya, seolah tak berujung. Bahkan ketika media-media memberitakan jika keduanya berpisah, tak ada yang mengetahui alasan pastinya.  Bahkan beberapa diantara mereka yang mengenal pasangan ini sangsi dengan informasi itu. Sebab hubungan Pak Prabowo dan Ibu Titiek selalu baik dari waktu ke waktu. Sebab setiap kali bertemu, kemesraan dan kesetiaan itu selalu hadir. Selalu menebar romantisme, selalu menebar pesona keakraban, seolah cinta keduanya tak pernah lekang. Mungkin ini sebuah misteri cinta dua anak manusia, dimana hanya mereka berdualah yang mengetahuinya.
Kini di ujung harapan kebangkitan Indonesia Raya, Pak Prabowo dan Ibu Titiek seolah menapak-tilasi perjalanan kerinduan itu, menapaktilasi cinta yang pernah terbangun indah dalam bingkai harmoni sebuah keluarga. Seperti keinginan banyak orang, agar Pak Prabowo dan Ibu Titiek menyatu kembali dalam cinta, cinta untuk keluarganya, dan cinta untuk Indonesia, Negeri peraduannya. Semoga!

Share.kompasiana

Subscribe your email address now to get the latest articles from us

Tidak ada komentar:

 
Copyright © 2015. PRESIDEN ber-NYALI.
Design by . Published by Themes Paper. Powered by .
Creative Commons License