Pages

Jokowi Kecanduan Pencitraan

Jumat, 04 Juli 2014

JAKARTA- Visi misi Joko Widodo sebagai calon presiden yang lebih mengakui Pancasila versi 1 Juni daripada Pancasila yang sah sebagaimana terdapat dalam pembukaan UUD 1945 menuai kritik.

Menurut penasehat Prabowo-Hatta, Letjen TNI Purn Suryo Prabowo, visi misi Jokowi menunjukan bahwa pemahamannya terhadap konstitusi negara dan peraturan perundangan masih dangkal.  "Ini fatal, seorang calon presiden tidak paham konstitusi atau UUD negaranya," jelas Suryo Kamis (3/7/2014).

Bukan hanya itu, kata dia, kurangnya pemahaman Jokowi terhadap UUD 1945 juga terlihat dalam debat capres pada Minggu 22 Juni lalu. "Jokowi menyampaikan bahwa RI tidak perlu hadir dalam upaya menciptakan perdamaian dunia bila tidak menguntungkan dirinya. Dia tidak paham UUD," tegas dia.

Dia juga mengkritik beberapa kegiatan Jokowi saat deklarasi pencapresannya, karena menggunakan situs-situs bersejarah, seperti rumah si Pitung untuk deklarasi pencapresan, Gedung Juang' 45 saat deklarasi capres/cawapres dan penggunaan lapangan Monas saat penyelenggaraan kampanye 22 Juni 2014.

"Demi pencitraan, banyak peraturan yang ditabrak Jokowi. Bisa kacau balau negara ini jika Jokowi Presidennya. Sepertinya dia sudah kecanduan pencitraan," tambahnya.

Dia juga mencatat banyaknya tindakan anarkis, intimidasi dan aksi-aksi premanisme brutal yang dilakukan pendukung Jokowi di ruang terbuka. "Pemukulan, pembakaran motor dan terakhir aksi vandalisme di studio TV One di Yogyakarta," katanya. (ful) share

Subscribe your email address now to get the latest articles from us

Tidak ada komentar:

 
Copyright © 2015. PRESIDEN ber-NYALI.
Design by . Published by Themes Paper. Powered by .
Creative Commons License